Rumitnya Situasi Pekerja Anak di Aceh

Rumitnya Situasi Pekerja Anak di Aceh

Permasalahan pekerja anak di Aceh sangat kompleks, keterlibatan anak-anak sebagai pekerja anak tidak hanya disebabkan karena pengaruh himpitan ekonomi. Penelitian saya, sebagai mahasiswa pasca sarjana jurusan International Community Development, Victoria University, Melbourne, bekerja sama dengan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Aceh,, menemukan beberapa alasan lain yang menyebabkan anak bekerja seperti rasa tanggung jawab untuk membantu usaha orang tua, keinginan untuk memiliki uang se

Oleh: Yenni Rosana
Alumni Jurusan International Community Development, Victoria University, Melbourne, Australia dan pernah menjadi relawan di PKPA Aceh

Permasalahan pekerja anak di Aceh sangat kompleks, keterlibatan anak-anak sebagai pekerja anak tidak hanya disebabkan karena pengaruh himpitan ekonomi. Penelitian saya, sebagai mahasiswa pasca sarjana jurusan International Community Development, Victoria University, Melbourne, bekerja sama dengan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Aceh,, menemukan beberapa alasan lain yang menyebabkan anak bekerja seperti rasa tanggung jawab untuk membantu usaha orang tua, keinginan untuk memiliki uang sendiri serta karena faktor banyaknya anak sekitar yang bekerja. Bekerja juga dijadikan waktu untuk berkumpul dengan teman-teman sebaya.

Penelitian ini menggunakan metode wawancara dalam pengumpulan data, yang dilakukan selama November 2011 di satu gampoeng yang berjarak 13 kilometer dari pusat ibu kota Aceh. Wawancara dilakukan terhadap berbagai komponen masyarakat termasuk pekerja anak, mantan pekerja anak, orang tua pekerja anak, yang mempekerjakan anak dan tokoh masyarakat. Tingkat partisipasi sekolah di gampoeng ini juga bisa dikatakan sangat baik. Menurut tokoh masyarakat setempat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan di gampoengnya sudah sangat tinggi. Meskipun bekerja, banyak anak di gampoeng ini yang mempunyai tingkat pendidikan yang baik.

Akan tetapi, di gampoeng ini juga terdapat anak yang putus sekolah; menurut geuchiek gampoeng kemungkinan anak-anak putus sekolah karena tidak ada keinginan dari mereka sendiri. Selain itu geuchiek gampoeng menambahkan “Gampoeng kami dekat dengan sekolah dari pendidikan dasar bahkan universitas, jadi kalau memang ada keinginan dari anak-anak tersebut untuk sekolah pasti anak tersebut bisa tetap di sekolah”. Geuchiek tersebut menyadari faktor ekonomi juga mempengaruhi partisipasi anak di sekolah dan masih ada orang tua yang tidak begitu peduli dengan pendidikan anaknya. Jadi kalau anak tidak mau lagi ke sekolah, orang tua akan membiarkan saja anaknya berhenti sekolah, katanya.

Satu studi Kasus dalam penelitian ini, pada sebuah indutri rumah tangga yang mempekerjakan anak-anak sendiri. Yusuf (bukan nama sebenarnya) pemilik industry rumah tangga pembuat kueh karah mengakui keenam anaknya ikut membantu usahanya. Namun dia tidak setuju jika disebutkan mempekerjakan anaknya sendiri. Menurutnya anak-anaknya bekerja karena keinginan mereka sendiri dan dia sangat bangga terhadap anak-anaknya yang sama sekali tidak harus diperintah untuk bekerja. Menurutnya anak-anaknya sangat bertanggung jawab untuk kelangsungan ekonomi keluarga. Ketika ditanyakan mengenai alasan salah seorang putrinya yang merupakan anak bungsunya hanya menamatkan Sekolah Dasar dia menyebutkan bahwa anaknya tersebut berhenti bersekolah karena tidak tertarik untuk melanjutkan sekolah dan beberapa kali tinggal kelas.

Menurut Yusuf beban yang diberikan kepada anak-anaknya sesuai dengan kemampuan anak. Anak-anak Yusuf yang dijumpai di dapur khusus milik keluarga mereka untuk produksi kueh karah, kelihatan sangat telaten. Bahkan tidak ada yang panik ketika tiba-tiba minyak penggorengan menjadi terlalu panas karena sedang asyik mengobrol. Menurut mereka, mereka sudah terbiasa dengan pekerjaan ini dari kecil.

Anak tertua Yusuf yang sudah menikah dan masih membantu di usaha kueh karah tersebut juga diwawancarai untuk penelitian ini. Dia tidak setuju jika bekerja menyebabkan dia dan saudara-saudaranya putus sekolah. Menurutnya, putus sekolah itu tergantung dari kemauan si anak sendiri, banyak anak yang bekerja namun tetap sekolah. Keenam anak Yusuf berhenti bersekolah pada tingkat yang berbeda meskipun keenamnya mempunyai tanggung jawab yang sama dalam bekerja. Anak tertuanya menamatkan bangku Sekolah Menengah Atas, sementara anak yang lain menamatkan bangku Sekolah Menengah Pertama. “Hanya si bungsu yang tamat SD” ujar Yusuf. Namun dia tidak mengelak kalau anak-anaknya sering menyelesaikan order pesanan sampai larut malam.

Ketika ditanya alasan berhenti sekolah, Anak bungsu Yusuf, Intan (bukan nama sebenarnya) mengaku sebenarnya suka bersekolah. Namun Intan hanya tersenyum ketika kakaknya menanyakan “kalau suka sekolah, kenapa tidak ke sekolah?”. Intan terlihat sebagai pribadi yang pemalu, fisik Intan terlihat terlalu besar untuk ukuran anak yang baru saja menamatkan Sekolah Dasar. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena Intan beberapa kali tinggal kelas. Bagaimana Intan bisa tertarik untuk melanjutkan sekolah kalau dia tidak bisa sekelas dengan anak seusianya. Bisa jadi Intan menjadi bahan olokan temannya karena terlalu besar sebagai seorang siswa SD. Tentu dia tidak mau mengalami hal yang sama ketika dia melanjutkan sekolah di SMP.

Kesulitan Intan dalam mengikuti pelajaran dianggap keluarganya sebagai keterbatasan Intan sendiri. Sementara Intan melihat seluruh saudaranya yang mempunyai pendidikan lebih tinggi tetap menjadi pengrajin kueh karah ikut memudarkan semangatnya untuk melanjutkan sekolah.

Lain lagi hal yang dialami Faisal, 28 tahun, mantan pekerja anak. Faisal menyebutkan meskipun bekerja dari kecil namun dia tetap menyelesaikan sekolahnya sampai lulus SMA. Dia menyebutkan bahwa dia bekerja karena orangtuanya miskin. Orangtuanya tidak memintanya untuk bekerja, namun dia merasa hal itu merupakan kewajibannya sebagai anak tertua.

Dia memulai pekerjaan paruh waktu sebagai pekerja bangunan pada saat umurnya kurang dari sepuluh tahun. Kemudian, umur lima belas tahun dia mulai bekerja di sebuah usaha perabot di desanya. Uang dari hasil bekerja digunakan sebagai uang jajannya sendiri dan sisanya diserahkan kepada ibunya untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarga. Menurutnya, kalau tidak bekerja tidak bisa menyelesaikan sekolahnya.

Sebenarnya, Faisal bercita-cita menjadi polisi, tetapi dia beranggapan menjadi polisi adalah cita-cita yang tidak mungkin dicapai oleh anak miskin seperti dirinya. Dia menyebutkan “kalau masuk polisi kan harus sogok, orang kecil seperti kita mana punya uang untuk bayar banyak seperti itu”. Cita-cita besar seorang anak seperti Faisal harus dikubur dalam-dalam karena adanya ketidak percayaan masyarakat kecil terhadap sistem perekrutan tenaga kerja.

Mengenai alasannya tidak melanjutkan kuliah dia menyebutkan bahwa dia memang tidak ingin melanjutkan kuliah. Selain sangat susah mengatur waktu kuliah dan waktu bekerja, menurutnya tidak menjamin dia mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya yaitu menjadi polisi. Jadi baginya lebih baik bekerja apa saja sehingga bisa terus memenuhi kebutuhan hidupnya.

Motivasi yang seharusnya didapat untuk memiliki cita-cita tinggi dan mencapainya terbelenggu dengan keputusasaan yang tumbuh karena beban sosial sebagai masyarakat kelas bawah. Sehingga masyarakat miskin terus terbelenggu dalam kemiskinan. Pihak berwenang yakinkan anak-anak seperti Faisal dan Intan bahwa mereka juga berhak bercita-cita dan mempunyai hak yang sama untuk mencapainya.

Related Post