HAFNI : SAYA BERJUANG UNTUK ANAK

HAFNI : SAYA BERJUANG UNTUK ANAK

Perjuangan Ibu Tunggal yang Berjualan Bersepeda Untuk Sekolah dan Perobatan Anak

Meski masih pukul 10 pagi, matahari sudah mulai menyengat kulit saat tim PKPA sampai di kediaman Hafni. Menurut penuturan orang tua Hafni yang saat itu berada di rumah, Ibu muda dengan dua orang anak tersebut masih berkeliling mengantarkan dagangannya kepada pelanggan.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, Hafni tiba dengan sepedanya dan keranjang jualannya sudah terlihat kosong.
“Sepertinya laris hari ini ya, Kak.” Ujar saya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
“Cuma nganter hari ini, belum tahu juga lakunya berapa.” Jawabnya sambil melepaskan jaket hijau beserta sarung tangan dan masker mulut yang selalu digunakannya saat berkeliling menjajakan dagangan.
Keseharian Hafni memang digunakan untuk berjualan cemilan kering yang dijajakan ke rumah warga yang berdomisili di sekitar daerah kelambir V. Hafni sudah menekuni usaha ini sejak 2014. Usaha cemilan kering ini digelutinya setelah berpisah dari suami yang bekerja sebagai supir angkutan umum. Kesulitan ekonomi pasca perpisahan membuat Hafni harus mencari akal agar mampu menghidupi dirinya dan kedua anaknya yang masih kecil.
Awalnya Hafni hanya membeli produk cemilan kering dari pabrik dan kemudian dikemas dalam kemasan ukuran 250 gr yang kemudian dijajakan dari rumah ke rumah. Namun lambat laun, tetangga dan salah seorang kerabatnya menawarkan diri untuk ikut mengecerkan produk cemilan dengan ukuran lebih kecil yang dipasok dengan harga Rp 4.000. Camilan yang dipasarkan hafni beraneka ragam, mulai dari produk pabrikan seperti astor, kuping gajah, unter-unter dan orong-orong, hingga produk olahan rumah tangga seperti keripik bawang, keripik ubi biru, keripik kentang dan kue gabus.
Tangguh untuk Bertahan Hidup
Pada awanya wanita yang berdomisili di Jalan Tani Asri Tanjung Gusta ini dapat menjual 150 bungkus cemilan (ukuran kecil) per hari. Namun banyaknya saingan yang mulai menjual produk sejenis membuatnya kehilangan konsumen tetap.
“Jualannya sama, harganya juga sama. Tapi pembeli kan nggak bisa kita paksa untuk beli punya kita. Sekarang kalau habis lima puluh bungkus sehari juga udah lumayan.” Jelasnya.
Hafni adalah wanita yang pantang menyerah dan rela melakukan usaha apa saja untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik bagi kedua anaknya, M Haikal Fais (10 tahun) dan Syafwan Haliza (4 tahun).
Saat masih remaja Hafni pernah bekerja di percetakan, saat itu Hafni baru saja menamatkan Sekolah Menengah Atas. Hafni juga pernah mencoba peruntungan dengan bekerja di penerbitan buku. Namun prestasi terbaik yang pernah dilakoninya adalah ketika Hafni berhasil menjadi salah satu karyawan di salah satu Rumah Sakit Swasta di Medan. Saat itu Hafni diposisikan di apotik dan juga bertindak sebagai petugas rekam medis.
Karena prestasinya yang cukup baik, Hafni sempat direkomendasikan untuk kuliah. Namun sayang, keputusannya untuk menikah disaat sedang meniti karir bukanlah pilihan yang paling tepat. Hafni nyatanya tidak mampu membagi waktu dengan baik. Suami yang tidak mendukung karir wanita muda ini juga menjadi salah satu alasan yang membuat hafni mundur dari pekerjaannya dan sekaligus menghentikan pendidikannya di bangku kuliah.
Anak Menjadi Alasan untuk Terus Maju
Meskipun sudah mencoba bertahan selama enam tahun membina rumah tangga, Hafni akhirnya menyerah saat sang suami mencoba mencederainya. Meskipun suami Hafni mengaku khilaf dan meminta maaf, keputusan Hafni sudah bulat dan memutuskan untuk kembali ke rumah orang tua membawa kedua putra dan putrinya.
Hafni berjuang dengan keras dan berharap suatu hari nanti dapat membeli sebuah rumah yang layak untuk kedua buah hatinya. Selain itu, Hafni juga yakin bahwa usahanya dapat berkembang lebih cepat jika dia memiliki rumah yang tidak dimasuki banjir dan hujan.
“Kalau rumah yang ditempati sekarang kan punya orang tua, terus suka kemasukan banjir sama hujan. Kalau lembab tidak bisa untuk menyimpan barang jualan dalam jumlah besar, jadinya biaya transportasinya besar karna harus bulak-balik ke pabrik untuk ambil persediaan barang.” Tuturnya.
Sifat optimis Hafni yang ingin segera mengembangkan usahanya bukanlah tanpa alasan. Selain harus membiayai pendidikan putranya yang masih kelas 2 SD, Hafni juga harus berjuang merawat putri kecilnya yang menderita disabilitas.
Syafwan Haliza yang saat ini masih berusia 4 tahun, awalnya dilahirkan dalam kondisi normal. Namun setelah cukuran (salah satu proses adat untuk bayi, dimana rambut bayi di cukur atau digunting sedikit -red) Syafwan menjadi pendiam dan perkembangannya tidak seperti bayi pada umumnya.
Karena keterbatasan biaya, Hafni hanya pernah sekali membawa Syafwan untuk menjalani pengobatan medis. Namun dokter berpendapat bahwa Syafwan sudah sulit untuk diobati karena syaraf tubuhnya sudah mati.
Namun Hafni tidak menyerah, wanita yang sehari-harinya mengenakan jilbab lebar ini lantas membawa putrinya ke terapi syaraf. Setelah beberapa kali dilakukan terapi, Syafwan mulai bisa melihat dan mendengar. Namun keterbatasan biaya membuat Hafni tidak dapat mengobati Syafwan secara rutin.
“Biaya berobat memang tidak ada patokan, seiklas hati. Tapi untuk ke sana (terapi syaraf – red) kan pakai ongkos, dan kalau berobat saya harus cuti jualan. Kalau sering tidak jualan, mana cukup untuk biaya anak-anak. Tapi saya yakin akan ada jalan keluar, saya akan terus berjuang untuk anak-anak.” ujarnya mantap dengan seulas senyum dan tatapan tegar.


Perjuangan Ibu Tunggal yang Berjualan Bersepeda Untuk Sekolah dan Perobatan Anak

Related Post