Generasi Anak-Anak Kita

Generasi Anak-Anak Kita

Oleh: Sulaiman Zuhdi Manik Pada banyak diskusi dengan orangtua dan pendidik saya menerima keluhan mengenai sikap dan perilaku anak-anak sekarang yang disebut susah diatur, selalu main handphone (HP), malas jika disuruh, malas mengerjakan pe-er, kurang bertanggungjawab, kurang militan dan berbagai sebutan dengan membandingkan dirinya zaman dulu dengan anak-anak sekarang. Ada orang tua menyebut, dia dulu berjalan kaki puluhan kilometer ke sekolah, sementara anak sekarang usia SMP sudah meminta


 
Sosiolog Hungaria, Karl Mannheim (1923) menyebut setiap generasi memiliki perspektif, kesadaran sosial dan kedewasaan yang dipengaruhi sejarah atau kejadian pada era dimana mereka hidup dan mengalaminya.
 
Satu pesan Ali Bin Abi Thalib adalah didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya,  karena mereka hidup bukan di jamanmu.  
 
Teori generasi
Neil Howe dan William Strauss tahun 1991 (1991, 2000) mempopulerkan teori generasi dengan membagi generasi sesuai kesamaan rentang waktu kelahiran dan kesamaan kejadian historis berdasarkan sejarah Amerika Serikat. Howe & Strauss (2000) menyebut tiga atribut untuk mengidentifikasi generasi yaitu percieved membership: persepsi individu terhadap kelompok dimana mereka tergabung pada masa remaja sampai dewasa muda, common belief and behaviors yaitu sikap terhadap keluarga, karir, kehidupan personal, politik, agama dan pilihan terkait dengan pekerjaan, pernikahan, anak, kesehatan, kejahatan dan common location in history yaitu perubahan pandangan politik, kejadian bersejarah seperti perang atau bencana alam yang terjadi pada masa remaja sampai usia dewasa muda.
 
Neil Howe dan William Strauss dalam buku Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069” (1991) mendefinisikan generasi di Amerika yaitu generasi matures,  baby boomers, X, Y dan Z.
 
Generasi matures (pra baby boom) yaitu orang yang lahir sebelum 1946, mengalami perang dunia I dan II. Mereka percaya adanya peluang, idealis membuat perubahan positif, kompetitif dan mencari cara untuk melakukan perubahan dari sistem yang sudah ada. Selain itu, generasi matures memiliki optimisme tinggi, pekerja keras, menginginkan penghargaan secara personal serta percaya pada perubahan dan perkembangan diri sendiri.
 
Generasi baby boomers, lahir tahun 1946-1964 atau setelah perang dunia II. Mereka memiliki anak banyak sehingga diistilahkan baby boom. Pemulihan pasca perang dunia II atau banyaknya negara yang merdeka menyebabkan pembangunan sosial digalakkan di berbagai negara. Pertumbuhan ekonomi, pendidikan dan sosial politik ikut dinikmati generasi yang cenderung berfikiran terbuka dan loyalis ini.
 
Generasi X, lahir tahun 1965-1980, cenderung toleran seperti terhadap perbedaan agama, strata, ras atau etnis. Walaupun generasi ini masih menyaksikan gejolak politik atau konflik global seperti perang Vietnam atau berakhirnya Perang Dingin, namun pada generasi ini jumlah kelahiran anak menurun akibat program keluarga berencana atau era anti anak. Novel Douglas Coupland; Generation X: Tales for an Accelerated Culture (1991), menyebut adanya ketidakpastian pada generasi ini. Generasi X diistilahkan the latckey kids atau anak yang merasa sendirian akibat sering ditinggal bekerja oleh orang tua
 
Anak kita generasi Y, Z dan Alpha
Generasi Y, lahir tahun 1981-1994, Neil Howe dan William Strauss (2000) dalam buku Millennials Rising: The Next Great Generation menyatakan tahun 1982-2001 merupakan akhir generasi Y. Menurut mereka, semua orang yang lulus SMA sampai tahun 2000 akan berbeda dengan orang yang lulus SMA sebelum dan sesudah masa itu. Perbedaan itu karena adanya pengaruh media dan perkembangan politik yang diterima generasi ini. Generasi Y disebut peduli terhadap masalah sosial, hidup seimbang, pekerja keras dan dapat diandalkan karena mengikuti ospek di masa muda, namun generasi ini tetap mementingkan me time.
 
Generasi Z, lahir antara tahun 1995-2010. Genarasi yang lahir dari pergeseran dari generasi Y disebut generasi milenial, I-generation atau generasi C. Mereka lahir dan dibesarkan di era digital dan teknologi semakin canggih yang mempengaruhi perkembangan perilaku dan kepribadian mereka. Fokus hidup mereka ke internet sebagai akses informasi dan media sosial untuk mencari popularitas. Mereka fasih dengan tehnologi digital dan terbiasa dengan video games, tv kabel, dan internet. Mudah beradaptasi, menerima perubahan dengan baik, memiliki karakter mandiri dan loyal, sangat mengutamakan citra, ketenaran dan pekerja (Jurkiewicz, 2000). Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instant messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter. Mereka adalah generasi yang tumbuh pada era internet booming (Lyons, 2004). 
 
Generasi Alpha lahir tahun 2011-2014 atau disebut juga generasi A. Mereka lahir pada zaman informasi, teknologi dan media yang semakin menyebar. Tidak heran anak-anak generasi A ini sejak dalam kandungan sudah dipublikasikan di media sosial oleh orang tuanya, termasuk sejak kelahirannya sejagad ini sudah mengetahui dan memberikan ucapan selamat. Foto-foto atau video pertumbuhan dan aktifitasnya sudah terpublikasi. 
 
Mereka sejak bayi sudah akrab dengan layar sentuh telepon genggam, bermain game atau orang tua sudah membuatkan akun media sosialnya. Tidak aneh pula jika untuk menenteramkan anak orang tua menjejali dengan gadget atau handphone (HP). Agar anak mau makan, si ibu memberi anak HP, jika ngambek anak diberi HP untuk main game, demikian seterusnya. Makanya anak generasi A lebih cepat dan mahir dengan teknologi. Kita, apalagi nenek-kakeknya, sering mereka ejek gaptek. Di sinilah, kita sering gagal paham terhadap apa yang dilakukan anak misalnya dengan Hpnya. 
 
Diperkirakan, generasi A akan lebih mandiri, lebih berpendidikan, siap menghadapi tantangan walaupun kesenjangan status sosial akan lebih terlihat dalam generasi ini (www.danschawbel.com). 
 
Tantangan orang tua
Anak-anak generasi Z dan A ini yang kita hadapi sekarang. Perbedaan peristiwa kehidupan dan teknologi sering menyebabkan miskomunikasi atau gagal paham antara orang tua dan anak. Rasa hormat yang selalu kita tekankan nyatanya kurang direspon. Konflik antara anak dan orang tua di rumah menjadi sering, apalagi dengan keterbatasan waktu orang tua di rumah sangat mempengaruhi kohesi komunikasi.
 
Survei Forbes Magazine (Dill; 2015) menyatakan generasi Z merupakan generasi global pertama yang nyata dimana teknologi adalah darah mereka. Periode tumbuh di lingkungan yang tidak pasti dan kompleks menentukan pandangan mereka tentang harapan dan dunia realistisnya. Ketergantungan kepada informasi dan teknologi yang berada di tangannya menyebabkan pesan atau contoh baik yang disampaikan terkadang sulit diterima dengan mengatakan itu zaman dulu. Ya, kita masih didik dengan nilai tradisi, sementara mereka dibesarkan dengan budaya global yang mempengaruhi pola pikir dan caranya merespon.
 
Disini kita sebagai orang tua sering frustasi, tidak jarang ada melampiaskan dengan melakukan kekerasan fisik atau psikis kepada anak, sebagai cara yang dianggap pilihan manjur menekan anak agar menuruti keinginan orang tua. Nyatanya tidak sedikit, cara tersebut justru memperkeruh situasi. Ada anak memilih mengurung diri di kamar atau kabur dari rumah dengan mengikuti teman sebaya. Ironisnya, si anak melampiaskan kekesalan di rumah dengan menjerumuskan diri pada perbuatan menyimpang, dengan persepsi hal tersebut sebagai hal biasa mereka lakukan.  
 
Dengan demikian pendidikan di sekolah dan keluarga tidak selalu menjadi fokus perhatian orang tua karena anak-anak sekarang memiliki zaman berbeda. Kompleksitas masalahnya menuntut orang tua untuk lebih adaptif di keluarga karena dari dan dalam keluargalah anak memulai proses kehidupannya. 
 
Tulisan ini telah dimuat di Harian Analisa, Medan, 22 Juli 2017.

Related Post